Powered By Blogger

Sabtu, 07 Agustus 2021

Modul 2.1.a.9 Koneksi Antar Materi Modul 2.1

Nama  : FX Deni Iswanto, S.Pd.
CGP Angkatan 2 Kota Bandar Lampung

 

Pembelajaran Berdiferensiasi dan Penerapannya di Kelas
Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid 

Pembelajaran diferensiasi menurut Tomlinson (2000) adalah usaha yang dilakukan guru dalam menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Tujuan pembelajaran berdiferensiasi untuk setiap siswa adalah pertumbuhan maksimum dari "posisi belajar" mereka saat ini. Sedangkan tujuan untuk guru adalah semakin memahami tentang posisi belajar tersebut sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Proses pembelajaran diferensiasi lebih menekankan pada kebutuhan individu, karena kita tahu bahwa setiap anak itu unik. Mereka punya ciri khas masing-masing dan terlahir dengan kodrat alam dan zamannya. Dalam hal ini guru hanya bisa menuntun lakunya bukan kodratnya. Guru selalu berusaha untuk memenuhi dan memperhatikan kebutuhan belajar setiap murid yang berbeda-beda. Guru bukan mengajar dengan berbagai cara yang berbeda dalam waktu yang sama. Namun sebelum mengajar guru terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar murid terkait dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Bagaimana guru akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda. Guru menciptakan lingkungan belajar yang "mengundang" murid untuk belajar, mendefinisikan tujuan pembelajaran, melaksanakan penilaian berkelanjutan dengan memanfaatkan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, dan merespon kebutuhan belajar murid.

Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, penilaian berkelanjutan (proses penilaian formatif yang telah dilakukan), refleski guru (bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya, dan juga pengelolaan kelas yang efektif.

Ketika guru melakukan pembelajaran berdiferensiasi mereka menjauh dari melihat diri mereka sendiri sebagai pemilik dan penyebar pengetahuan dan bergerak ke arah melihat diri mereka sendiri sebagai penyelenggara kesempatan belajar. Guru dengan demikian akan lebih fokus pada “membaca” siswa mereka. 

Langkah-langkah dalam pembelajaran  berdiferensiasi:

  1. Menetapkan tujuan pembelajaran (pahami kompetensi dasar atau standar yang akan dicapai, tentukan tujuan pembelajaran).
  2. Melakukan pemetaan kebutuhan siswa (pre tes minat, profil belajar dan kesiapan belajar).
  3. Menentukan strategi dan alat penilaian yang digunakan.
  4. Menentukan kegiatan pembelajaran (konten, proses, produk). 

Strategi diferensiasi ada 3, yaitu:

  1. Diferensiasi Konten merujuk pada strategi dalam membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten yang disampaikan oleh guru.
  2. Diferensiasi Proses merujuk pada strategi untuk membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (content) materi.
  3. Diferensiasi Produk merujuk pada strategi untuk memodifikasi produk hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari. 

Diferensiasi menghendaki seorang guru untuk menyadari bahwa ruang kelas harus menjadi tempat di mana guru akan selalu berusaha mengejar pemahaman terbaik mereka tentang pengajaran dan pembelajaran setiap hari, dan juga untuk mengingat setiap hari bahwa tidak ada praktik yang benar-benar praktik terbaik kecuali jika itu berhasil untuk setiap individu. 

Seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa setiap anak merupakan suatu pribadi yang unik, yang mempunyai karakter khas yang membedakannya dengan anak lainnya. Sesungguhnya dari sejak dilahirkan setiap anak mempunyai perilaku, watak, karakter, bakat, minat, tingkat emosional, kecerdasan yang berbeda. Maka setiap anak atau murid harus memperoleh penghargaan maupun perlakuan yang berbeda sebagai seorang individu. Untuk dapat mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki murid dan mencapai hasil belajar yang optimal guru harus memodifikasi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda beda tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, apakah dari segi konten, proses maupun produknya yang diawali dengan memetakan kebutuhan murid itu sendiri dalam belajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pada dasarnya untuk memcapai pemenuhan kebutuhan dan prestasi belajar yang optimal, hal utama yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan memetakan kebutuhan belajar siswa. Guru dapat merancang, menerapkan/melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan siswa itu sendiri. Dengan terpenuhinya kebutuhan belajar siswa yang berbeda- beda, maka prestasi belajar optimal dapat tercapai sesuai dengan harapan.


Salam dan bahagia
#gurubergerak
#Indonesiamaju

Senin, 26 Juli 2021

PGP - ANGKATAN 2 - KOTA BANDAR LAMPUNG - FRANCISCUS XAVERIUS DENI ISWANTO - 1.4 - AKSI NYATA


AKSI NYATA – BUDAYA POSITIF

 

Judul Modul    : 1.4.a.10 Aksi Nyata - Budaya Positif

Nama Peserta  : FX Deni Iswanto, S.Pd.

CGP Angkatan 2 Kota Bandar Lampung

 

A.    Latar Belakang 

Budaya positif merupakan sebuah pembiasaan bernilai positif yang di dalamnya mengandung sejumlah kegiatan untuk menumbuhkan karakter siswa ke arah yang positif. Budaya positif yang dibangun dalam kelas bertujuan memberikan dampak pada budaya positif di sekolah untuk mewujudkan visi sekolah. Mewujudkan budaya positif di sekolah dilakukan sejak sekolah dasar karena membutuhkan waktu yang lama dan konsisten dari warga sekolah. Guru penggerak memiliki peran yang besar dalam mewujudkan disiplin positif baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Guru dapat menerapkan budaya positif dengan cara bekerja sama dengan rekan sejawat, berinteraksi secara akrab dengan siswa, menerapkan sikap disiplin dan bertanggung jawab serta menjadi teladan bagi siswa. Di kelas yang dapat lakukan guru untuk membangun budaya positif melalui pembuatan kesepakatan kelas.

Pembuatan kesepakatan kelas memiliki dampak yang besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Kesepakatan yang dibuat secara bersama berpengaruh pada peningkatan pemahaman siswa yang pada akhirnya akan mempengaruhi perubahan tingkah laku siswa. Perubahan tingkah laku ini juga akan berujung pada terbentuknya budaya positif di kelas. Membangun budaya positif di sekolah dapat ditempuh dengan cara membangun budaya positif di kelas melalui pembuatan kesepakatan kelas. Budaya positif di sekolah harus dikembangkan guru untuk mewujudkan karakter profil pelajar Pancasila.

 

B.     Deskripsi Aksi Nyata

1.      Tujuan 

·         Meningkatkan komunikasi guru dan siswa.

·         Menumbuhkan rasa peduli antara guru, sesama siswa, dan lingkungan sekolah.

·         Belajar untuk disiplin dan bertanggung jawab.

·         Menumbuhkan kejujuran.

 

2.      Tolok Ukur 

·         Meningkatnya komunikasi antara guru dan siswa.

·         Tumbuhnya rasa peduli antara guru, sesama siswa, dan lingkungan sekolah.

·         Siswa menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

·         Siswa memiliki sifat jujur dalam berbagai hal.

 

3.      Linimasa tindakan yang akan dilakukan 

·         Mensosialisasikan kesepakatan kelas dalam mewujudkan budaya positif kepada warga sekolah.

·         Membiasakan berkomunikasi secara santun dalam rangka membangun budaya positif di kelas dan di sekolah.

·         Mengajak warga sekolah untuk saling peduli baik antar guru, antar siswa, antara guru dan siswa, maupun dengan lingkungan sekolah.

·         Mengajak siswa untuk disiplin dan bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan di sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas dalam lingkungan sekolah.

·         Memfasilitasi kesamaan visi dan tujuan dalam kesepakatan kelas dan kesepakatan aturan sekolah.

·         Merefleksi kegiatan dalam rangka membudayakan kebiasaan positif di sekolah.

 

4.      Dukungan yang dibutuhkan 

Untuk melancarkan pelaksanaan kegiatan dari rancangan tindakan untuk aksi nyata yang telah saya buat tentu memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Untuk terlaksananya kegiatan aksi nyata ini saya sangat membutuhkan dukungan dari kepala sekolah, rekan sejawat, siswa, dan orang tua. Semoga dalam pelaksanaannya nanti tidak terdapat banyak kendala dan halangan sehingga aksi nyata yang akansaya laksanakan dapat berjalan sesuai dengan harapan saya.

 

5.      Alasan Melaksanakan Aksi Nyata 

Alasan melaksanakan aksi nyata ini adalah untuk melihat hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh saya sebagai Guru Penggerak selama mempelajari modul 1.4 dan mempraktikkan secara nyata di lapangan. Apakah berhasil dan sesuai dengan harapan yang kita inginkan, ataukah malah sebaliknya sehingga kita dapat mengevaluasi kegiatan yang telah kita laksanakan.

 

C.    Hasil Aksi Nyata yang Dilakukan 

Umpan balik yang baik dari siswa dan orangtua yang sangat beragam mempengaruhi keberhasilan dalam aksi nyata. Dalam suasana pembelajaran daring hasil aksi nyata terlihat kurang terlalu signifikan. Tantangan dalam menerapkan budaya positif adalah menghadapi murid yang berusia 11 – 13 tahun yang masih dalam masa remaja yang labil. Karakter siswa lebih bergantung dari latar belakang keluarga dan pengaruh sosial lingkungan masyarakat disekitarnya.

 

Hasil dari aksi nyata yang telah saya dilakukan adalah sebagai berikut:

·         Siswa memberikan respon dan umpan balik yang positif dalam kegiatan pembelajaran.

·         Siswa menjadi disiplin, bertanggung jawab, dan semakin aktif  dalam kegiatan pembelajaran.

·         Siswa memiliki rasa kejujuran yang tinggi terlihat dari tugas yang sudah dikirimkan.

 

D.    Pembelajaran yang Didapat dari Pelaksanaan (Kegagalan maupun Keberhasilan) 

Dalam pelaksanaan aksi nyata tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan yang tertuang dalam rancangan yang telah dibuat. Kendala yang muncul adalah saat kegiatan pelaksanaan aksi nyata harus kembali belajar secara daring/online karena perpanjangan PPKM mikro sehingga dalam pelaksanaannya mengalami kendala terutama dalam prosesnya. Apa yang sudah direncanakan dan dilaksanakan tidak serta merta langsung berhasil. Banyak kendala yang dihadapi dalam mensosialisasikan budaya positif di sekolah melalui pembelajaran daring/online.

 

Sosialisai budaya positif berjalan dengan memberikan angket menggunakan google form dimana siswa merespon dengan baik. Siswa menunjukkan respon yang positif dan sikap antusias dalam setiap kegiatan pembelajaran. Selama pelaksanaan aksi nyata siswa terlihat antusias dalam belajar. Pembelajaran yang dilaksanakan juga lebih menarik karena bervariasi. Siswa semakin memahami budaya positif yang dapat diterapkan di sekolah. Tetapi secara keseluruhan aksi nyata yang telah dilaksanakan berjalan dengan baik.

 

E.     Rencana Perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang 

Mensosialisasikan budaya positif kepada semua warga sekolah ketika pembelajaran tatap muka sudah dapat dilaksanakan. Mengimbaskan disiplin positif kepada siswa dan membiasakan selalu berkomunikasi dua arah dengan siswa. Membiasakan memberi apresiasi terhadap kemajuan dan perkembangan siswa atas pencapaiannya dalam melaksanakan budaya positif di sekolah. Pembiasaan akan membantu siswa untuk menjadi terbiasa. Ketika sudah terbiasa maka akan menjadi sebuah keberhasilan.

Membuat perubahan yang dimulai dari diri sendiri dengan membudayakan 5 S. Menerima dan memberikan aspirasi murid merdeka dalam melaksanakan kesepakatan kelas yang telah dibuat bersama. Dengan kontrol guru, semua siswa menyepakati poin-poin kesepakatan dan ditandatangani oleh siswa. Melakukan refleksi bersama antar siswa dan guru atas kesepakatan yang telah disepakati.

 

F.     Dokumentasi

 Membuat kesepakatan kelas yang telah disepakati antara guru dan siswa.

















Berkoordinasi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat dalam komunitas praktisi.



Rabu, 30 Juni 2021

PGP - Angkatan 2 - Kota Bandar Lampung - FX Deni Iswanto - 1.4 - Rancangan Aksi


Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata

  


Judul Modul    : 1.4.a.9 Koneksi Antar Materi - Budaya Positif

Nama Peserta  : FX Deni Iswanto, S.Pd.

CGP Angkatan 2 Kota Bandar Lampung

 

A.    Latar Belakang 

Budaya positif merupakan sebuah pembiasaan bernilai positif yang di dalamnya mengandung sejumlah kegiatan untuk menumbuhkan karakter siswa ke arah yang positif. Budaya positif yang dibangun dalam kelas bertujuan memberikan dampak pada budaya positif di sekolah untuk mewujudkan visi sekolah. Mewujudkan budaya positif di sekolah dilakukan sejak sekolah dasar karena membutuhkan waktu yang lama dan konsisten dari warga sekolah. Guru penggerak memiliki peran yang besar dalam mewujudkan disiplin positif baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Guru dapat menerapkan budaya positif dengan cara bekerja sama dengan rekan sejawat, berinteraksi secara akrab dengan siswa, menerapkan sikap disiplin dan bertanggung jawab serta menjadi teladan bagi siswa. Di kelas yang dapat lakukan guru untuk membangun budaya positif melalui pembuatan kesepakatan kelas.

Pembuatan kesepakatan kelas memiliki dampak yang besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Kesepakatan yang dibuat secara bersama berpengaruh pada peningkatan pemahaman siswa yang pada akhirnya akan mempengaruhi perubahan tingkah laku siswa. Perubahan tingkah laku ini juga akan berujung pada terbentuknya budaya positif di kelas. Membangun budaya positif di sekolah dapat ditempuh dengan cara membangun budaya positif di kelas melalui pembuatan kesepakatan kelas. Budaya positif di sekolah harus dikembangkan guru untuk mewujudkan karakter profil pelajar Pancasila.

 

B.     Tujuan 

1.      Meningkatkan komunikasi guru dan siswa.

2.      Menumbuhkan rasa peduli antara guru, sesama siswa, dan lingkungan sekolah.

3.      Belajar untuk disiplin dan bertanggung jawab.

4.      Menumbuhkan kejujuran

 

C.    Tolok Ukur 

1.      Meningkatnya komunikasi antara guru dan siswa.

2.      Tumbuhnya rasa peduli antara guru, sesama siswa, dan lingkungan sekolah.

3.      Siswa menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

4.      Siswa memiliki sifat jujur dalam berbagai hal.

 

D.    Linimasa tindakan yang akan dilakukan

1.  Mensosialisasikan kesepakatan kelas dalam mewujudkan budaya positif kepada warga sekolah.

2.  Membiasakan berkomunikasi secara santun dalam rangka membangun budaya positif di kelas dan di sekolah.

3.  Mengajak warga sekolah untuk saling peduli baik antar guru, antar siswa, antara guru dan siswa, maupun dengan lingkungan sekolah.

4.  Mengajak siswa untuk disiplin dan bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan di sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas dalam lingkungan sekolah.

5.  Memfasilitasi kesamaan visi dan tujuan dalam kesepakatan kelas dan kesepakatan aturan sekolah.

6.  Merefleksi kegiatan dalam rangka membudayakan kebiasaan positif di sekolah.

 

E.     Dukungan yang dibutuhkan

Untuk melancarkan pelaksanaan kegiatan dari rancangan tindakan untuk aksi nyata yang telah saya buat tentu memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Untuk terlaksananya kegiatan aksi nyata ini saya sangat membutuhkan dukungan dari kepala sekolah, rekan sejawat, siswa, dan orang tua. Semoga dalam pelaksanaannya nanti tidak terdapat banyak kendala dan halangan sehingga aksi nyata yang akansaya laksanakan dapat berjalan sesuai dengan harapan saya.

Salam dan bahagia….

 #Guru bergerak

#Indonesia maju

 Tautan youtube  https://www.youtube.com/channel/UCiwe8P3ETYO9NcR_zpHdCaA

Senin, 28 Juni 2021

1.4.a.9 Koneksi Antar Materi - Budaya Positif

Koneksi Antar Materi – Budaya Positif





Franciscus Xaverius Deni Iswanto, S.Pd.
CGP Angkatan 2 Kota Bandar Lampung
UPT SD Negeri 1 Pesawahan Kota Bandar Lampung


Penerapan budaya positif di sekolah merupakan sebuah usaha untuk memberikan sebuah perubahan baru. Kualitas sebuah sekolah dapat dilihat dari budaya positif yang tumbuh dan berkembang di lingkungan sekolah. Semua warga sekolah menjalankan budaya positif di sekolah dalam situasi yang kondusif. Budaya positif sekolah merupakan sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah. Sekolah sebagai sarana untuk belajar dan mengembangkan bakat siswa yang sudah ada dalam dirinya. Sekolah dapat memfasilitasi semua kebutuhan siswa dengan menerapkan disipilin positif dengan tujuan agar anak terbiasa melakukan hal hal positf. Karakter-karakter positif akan tumbuh dengan sendirinya jika sudah terbiasa.

Budaya positif disekolah tidak mungkin bisa berjalan dengan baik dan berdiri sendiri tanpa ada upaya dari seluruh warga sekolah. Semua warga sekolah menjalankan dan mempertahankan budaya positif yang sudah ada. Menciptakan budaya positif yang bernilai kebebasan tanpa ada paksaan, menghormati anak didik, serta mengupayakan eksplorasi terbimbing sebagai upaya dalam mencapai tujuan Pendidikan Nasional. Guru hendaknya menjadi teladan bagi siswa dan selalu memberikan semangat ketika melakukan dan menerapkan budaya positif.

Guru dapat mendorong siswa dalam belajar untuk meraih cita-cita. Sebagaimana ungkapan dari Ki Hajar Dewantara "Ing Ngarso Suntulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut wuri Handayani". Pembelajaran yang mengutamakan kebebasan kepada seluruh siswa dalam belajar, menerima pembelajaran, serta kebebasan dalam mengeksplorasi diri sebagai pembelajar sejatinya akan mampu melahirkan generasi-generasi anak yang tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME, kebhinekaan global, bergotong royong, kratif, bernalar positif, dan mandiri diperlukan guru yang benar-benar memahami filosofi KHD. Guru harus mengetahui posisi kontrol guru yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid. Semua aspek tersebut harus dimiliki oleh seorang guru terutama calon guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran.

Guru penggerak harus bisa menularkan kebiasaan kebiasaan positif bagi teman sejawatnya di sekolahnya. Dalam upaya membangun budaya positif disekolah guru bekerja sama dengan warga sekolah dan orang tua. Guru penggerak memiliki peran kunci dalam pengembangan disiplin positif dengan menciptakan ruang kelas yang berpusat pada peserta didik, bekerjasama dengan orangtua dalam penerapan disiplin positif di rumah. Kepala sekolah harus memastikan warga sekolah memberikan dukungan kepada guru penggerak dalam menerapkan disiplin positif di sekolah. Guru penggerak mendukung keterlibatan orangtua dalam menerapkan disiplin positif di rumah dengan cara menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman.

Budaya positif dikelas dirancang melalui kesepaktan kelas oleh guru penggerak dapat diikuti oleh teman sejawat dan dapat diubah menjadi sebuah visi sekolah yang dapat dijalankan oleh warga sekolah. Dalam mewujudkan budaya positif peran guru di kelas adalah membuat kesepakatan kelas bersama murid guna mencapai visi sekolah. Dalam hal membuat kesepakatan kelas, guru senantiasa menegaskan budaya positif yang disepakati dan menjauhkan hukuman ataupun pemberian hadiah sebagai bujukan untuk pembiasaan budaya positif. Hasil kesepakatan kelas dapat ditempel di sudut ruangan agar dapat dilihat oleh seluruh siswa. Jika budaya positif telah menjadi pembiasaan bagi seluruh warga sekolah, niscaya visi sekolah tercapai dan semua warga sekolah nyaman dan dipenuhi cinta kasih di sekolah. Budaya positif yang ada disekolah dapat membantu pencapaian visi sekolah impian. Untuk mewujudkan visi sekolah impian, peran guru penggerak sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah sangatlah penting. Guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada siswa, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Visi sekolah yang diharapkan adalah siswa yang memiliki kemerdekaan dalam belajar dan memiliki karakter Profil Pelajar Pancasila. Menuju visi sekolah impian diperlukan kolaborasi dari seluruh warga sekolah. Guru Penggerak dapat menggunakan metode BAGJA sebagai langkah dalam pendekatan inkuiri apresiatif di sekolah. Inti dari pendekatan inkuiri apresiatif adalah nilai positif yang telah ada dan dikembangkan secara kolaboratif. Alur BAGJA diawali dengan buat pertanyaan, ambil tindakan, gali impian, jabarkan rencana, dan atur eksekusi. Berpijak dari hal positif yang ada di sekolah, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap individu dalam komunitas. Hal tersebut sejalan dengan prinsip Trikon, Ki Hajar Dewantara dimana perubahan bersifat kontinu (berkesinambungan), konvergen (universal), dan konsentris (kontekstual). Apa yang sudah dibuat dari metode BAGJA disatukan dengan kesepakatan kelas yang sudah dibuat dan diselaraskan dengan visi sekolah yang sudah ada dan dapat dijadikan visi sekolah yang baru. Tidak mudah untuk merubah apa yang sudah ada, tetapi dengan tekat dan keyakinan serta dukungan dari semua warga sekolah pasti semua menjadi mungkin. Guru penggerak sebagai motor dari sekolah harus mampu membuat perubahan nyata di sekolahnya.