Powered By Blogger

Minggu, 17 Oktober 2021

3.3.a.9 Koneksi Antar Materi - Pengelolalaan Program yang Berdampak pada Murid

 3.3.a.9. KONEKSI ANTAR MATERI

 

OLEH

FX DENI ISWANTO, S.Pd.SD

CGP ANGKATAN 2 KOTA BANDAR LAMPUNG

 


 

Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 

Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara

 

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Perguruan Taman Siswa memiliki pedoman bagi seorang guru yang disebut Patrap Triloka. Konsep yang sangat populer ini dikembangkan oleh Suwardi Suryaningrat (nama lain Ki Hajar Dewantara), yaknia: Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/kemauan/semangat), Tut wuri handayani (dari belakang mendukung). Hal inipun juga tidak lepas dari zaman sekarang ini yang dimana serba modern dan filosofi diatas sangat masih kontekstual untuk diterapkan, meneladani filosofi Pratap Triloka dalam mengambil keputusan merupakan ciri dari seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran.

 

Nilai dan Peran Guru Penggerak

 

Pada penerapan Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran, Nilai dan Peran Guru Penggerak menjadi sangat penting. Nilai dan peran guru, yang Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, dan Berpihak pada anak, menjadi dasar yang sangat kuat bagi guru untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang Merdeka Belajar. Disetiap pengambilan keputusan berpegang pada prinsip-prinsip yang berpihak kepada murid, seorang pemimpin pembelajaran harus mampu memahami perannya sebagai pendidik, mampu membangun motivasi intrinsik dalam diri maupun bagi murid.

 

Visi Guru Penggerak

 

Guru dapat mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid merdeka yang memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi? Maka atas pertanyaan itulah, guru perlu terus berlatih meningkatkan kapasitas dirinya dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng sesama dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama. Dari sana, baru kemudian dilanjutkan dengan segala upaya gotong-royong yang diperlukan demi pencapaian harapan bersama tersebut. Harapan kita adalah visi kita. Visi kita sekarang adalah masa depan murid kita. Masa depan murid kita adalah masa depan bangsa kita, Indonesia.

 

Budaya Positif

 

Pendidikan dalam masa pandemi masih memunculkan banyak masalah karena fasilitas yang kurang memadai. Disini saya akan memunculkan budaya positif. Untuk menjadikan kebiasaan positif di kelas menjadi sebuah budaya sekolah dan visi sekolah tentunya dibutuhkan pemikiran dan kesepakatan bersama yang digali dari ide yang dicapai bersama yang dituangkan berdasarkan mimpi-mimpinya, nilai-nilai yang diyakini oleh warga sekolah, dan impian normatif kolektif warga sekolah. Masing-masing guru dapat menyampaikan praktik baik yang sudah dilakukan di kelasnya masing-masing untuk kemudian sekiranya baik dapat diadopsi dan diadaptasi menjadi praktik baik sekolah. Dari hal tersebut kita dapat menggali nilai-nilai budaya positif dan kebiasaan positif apa yang menjadi budaya positif sekolah untuk kemudian dituangkan secara tertulis menjadi visi sekolah.

 

Pembelajaran Berdeferensiasi

 

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1.           Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang” murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

2.           Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

3.           Penilaian berkelanjutan.
Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

4.           Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.
Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

5.        Manajemen kelas yang efektif.
Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode
yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

 

Pembelajaran Sosial dan Emosional

 

Memiliki kecerdasan intelektual tidak cukup menjadikan seseorang menjadi sukses, karena disaat kita tidak memiliki sosial-emosional yang baik maka kita tidak dapat melakukan interaksi yang baik pula dengan orang lain. Demikian sebaliknya disaat sosial emosional baik maka kita dapat mengatur segala macam emosi (sedih, gembira, haru, tawa, simpati, empati) yang keluar di waktu yang tepat.

Kesuksesan tidak hanya di dapatkan dari pendidikan yang tinggi atau nilai akademik yang tinggi. Namun Kesuksesan bisa di dapat dari rasa sosial-emosional yang baik sehingga dengan demikian ia akan bermanfaat bagi orang-orang yang ada disekitarnya.

Pembelajaran sosial emosional adalah proses pembelajaran yang dimulai dengan pembentukan kesadaran dan kontrol diri serta kemampuan dalam berkomunikasi. Hal ini penting diberikan kepada anak didik agar mereka mampu bertahan dan sekaligus dapat mengatasi setiap permasalahan sosial emosional yang dialaminya. Pembelajaran ini dapat dilakukan dengan cara latihan berkesadaran penuh (mindfulness).

Salah satu latihan diri yang dapat digunakan adalah dengan teknik STOP, yaitu: S: Stop (berhenti sejenak), T: Take a deep break (Menarik nafas dalam), O: Observe (Mengamati apa yang terjadi pada tubuh, pikiran dan perasaan), P: Proceed (Lanjutkan).

Dalam menumbuhkan dan mengembangkan pembelajaran sosial emosional tersebut, ada 5 kompetensi dasar yang dapat dikembangkan yaitu:

1.          Kesadaran diri;

2.          Pengelolaan diri;

3.          Kesadaran sosial (Empati);

4.          Keterampilan sosial (Resiliensi) dan

5.          Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

 

Coaching

 

Coaching adalah salah satu praktik pembelajaran yang berpihak kepada murid, couching itu adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee. (Grant, 1999).  Couching dapat melejitkan potensi yag dimiliki seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya, diri dan kemampuan serta potensi yang dimilikinya.

Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya, segala solusi dan keputusannya diberikan kepada coachee mana yang menjadi pilihannya, peran coach hanya membantu dan mengarahkan saja. 4 kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang coach, yaitu: Keterampilan Membangun proses coaching (terkait dengan Penerapan KSE) Keterampilan membangun hubungan baik (terkait dengan nilai dan peran Guru penggerak) Keterampilan berkomunikasi (terkait dengan filosofi dan pembelajaran berdiferensiasi) Keterampilan memfasilitasi proses pembelajaran (terkait dengan proses Inquiry apresiatif dan BAGJA) TIRTA : satu model coaching untuk konteks pendidikan.

Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching di komunitas sekolah dengan mudah. TIRTA kepanjangan dari T: Tujuan I: Identifikasi R: Rencana aksi TA: Tanggung jawab.

Dengan menjalankan metode TIRTA ini, harapannya seorang guru dapat semakin mudah dapat menjalankan perannya sebagai coach dan Praktik coaching sebagai salah satu praktik baik menjadi Budaya positif yang melekat sebagai dedikasi bagi guru yang bisa dilakukan secara menyeluruh pada ekosistem sekolah demi mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang Merdeka Belajar.

Teknik coaching sejatinya merupakan teknik komunikasi asertif untuk mengali potensi dan memaksimalkannya yang dimana hal tersebut penting dilakukan dan diterapkan sebelum pengambilan keputusan, terutama dalam tahap pengujian serta 9 langkah pengambilan keputusan.

 

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Banyak hal dalam hidup ini yang harus dipikirkan dengan bijaksana terutama berkaitan dengan pengambilan suatu keputusan. Sering kali bertindak terlebih dahulu tanpa memikirkan apakah itu keputusan yang tepat untuk diambil atau tidak. Ataukah keputusan yang akan diambil dapat melukai hati orang lain yang membuat suasana tidak nyaman dalam suasana kerja yang sifatnya adalah kerja team. Akan tetapi dalam mengambil keputusan dengan dalil demi "menyehatkan" diri dan bathin sendiri tanpa memikirkan pendapat dan perasaan orang lain, yang akhirnya memunculkan dilema dalam diri apakah keputusan itu saya lakukan demi kebaikan orang banyak.

Ketika kita menghadapi sebuah dilema akan ada nilai-nilai kebajikan yang mendasari yang bertentangan dan harus menjadi pilihan, karena nilai dan prinsip sangat berkaitan erat dan merupakan unsur yang tidak terpisahkan dari prilaku manusia disadari maupun tidak kedua hal inilah yang mendasari seseorang dalam mengambil keputusan.

Seorang pemimpin pembelajaran tentunya diharapkan mampu mengambil keputusan yang dapat membawa dampak positif pada terciptanya lingkungan yang kondusif, aman dan nyaman bagi murid sehingga mampu membuat sebuah perubahan yang lebih baik yang dapat mempengaruhi kehidupan di lingkungan sosial di sekitarnya serta dapat menciptakan suasana pembelajaran yang berpusat pada murid agar kedepannya murid dapat merasakan kemerdekaan belajar yang sebenarnya.

Adapun kesulitan-kesulitan yang terjadi dapat diatasi dengan menerapkan 4 Paradigma, 3 Prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan itu sendiri. Dengan melibatkan kepala sekolah, rekan guru bahkan warga sekolah demi mendapatkan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan murid. Pengambilan keputusan yang tepat akan sangat berdampak pada murid, yang dimana peningkatan disiplin dan cara belajar murid dapat dengan instan meningkatkan kualitas mutu sekolah.

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya karena seorang pemimpin pembelajaran terutama dalam bidang pendidikan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya, guru bisa mengarahkan potensi yang ada pada murid sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya, keputusan yang diambil tentunya adalah keputusan terbaik dan efektif bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri.

 

Pemimpin Dalam Pengelolahan Sumber Daya

 

Mengelola sumber daya merupakan hal yang sangat penting dilakukan dalam suatu komunitas salah satunya adalah di lingkungan sekolah, optimalnya adalah suatu lembaga pendidikan atau sekolah memiliki sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai suatu tujuan visi dan misi yang sudah direncanakan, pentingnya mengelola sumber daya adalah untuk memberdayakan sumber daya baik sumber daya manusia maupun sumber daya lingkungan apa bila hal ini tidak di kelola dengan baik maka akan membawa dampak yang kurang baik, bisa menjadikan suatu komunitas mati suri atau diam di tempat bahkan tidak mampu bersaing di dalam dunia pendidikan, mengelola sumber daya adalah tanggung jawab bersama dari semua anggota komunitas yang ada sehingga bersama sama mencapai hasil yang maksimal, dengan demikian maka suatu komunitas atau sekolah harus mampu mengoptimalkan sumber daya secara maksimal. Salah satu contoh komunitas adalah sekolah, dalam proses pelaksanaan pembelajaran dibutuhkan seorang pemimpin.

 

Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid

 

Hal-hal menarik yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan bagaimana benang merah yang bisa Anda tarik dari keterkaitan antarmateri yang diberikan dalam modul 3.3?

Jawaban :

Setiap sekolah memiliki kekuatan/aset yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan dalam sebuah program sekolah yang berdampak pada murid. Program Sekolah adalah program pendidikan yang diterapkan khusus untuk sekolah sesuai dengan tujuan yang diinginkan sekolah yang disesuaikan dengan aset/kekuatan yang dimilki atau yang ada disekolah dan program yang disusun merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan tidak hanya satu kali tetapi berkesinambungan oleh karena itu program sekolah harus dikelola dengan baik.

Adapun hal baik dari modul pengelolaan program yang berdampak pada murid yakni calon guru penggerak mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk program yang berdampak pada murid, mampu mengidentifikasi tahapan membuat program, mampu memahami proses perencanaan program sampai pelaporan program dengan menggunakan strategi Monitoring, Evaluasi, Learning dan Reporting (MELR) dan mampu mengidentifikasi manajemen risiko dari sebuah program.

 

Apakah kaitan antara pemetaan sumber daya dengan perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid?

Jawaban :

Program sekolah yang berdampak pada murid yakni program yang berfokus pada pengembangan potensi, bakat dan minat belajar murid dan di sertai budaya positif yang membuat setiap murid merasa berbahagia belajar di sekolah dan kaitannya dengan pemetaan sumber daya sangatlah erat dimana untuk saat ini sekolah telah menanfaatkan beberapa modal berbasis aset dan kekuatan, salah satunya modal lingkungan/alam, murid belajar di alam dengan memanfaatkan lingkungan sekolah yang luas dan asri hal ini sangat signifikan dengan program yang berdampak pada murid.

 

Adakah materi dalam modul lain/paket modul lain yang berhubungan dengan materi dalam modul 3.3. ini? Jabarkanlah jika ada.

Jawaban :

Perencanaan merupakan langkah awal yang harus ditempuh sebelum melaksanakan suatu kegiatan program, agar kegiatan tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan harapan yang diinginkan. Namun perlu adanya kerjasama oleh semua pihak, dan upaya yang konsisten dan berkesinambungan.

Dalam merancang sebuah program sekolah yang berdampak pada murid dapat dilakukan melalui tahapan BAGJA yang menggunakan paradigma inkuiri apresiatif, yaitu pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan.

o   Kaitan Dengan Modul Filosofi Ki Hajar Dewantara, (Program sekolah yang berdampak pada murid dapat mendukung merdeka belajar dan menuntun murid agar kodrat alam atau potensinya dapat berkembang secara optimal).

o   Kaitan Dengan Modul Inkuiri apresiatif, (Program sekolah yang berdampak pada murid dapat dilakukan dengan pendekatan inkuiri apresiatif melalui langkah BAGJA (melihat kekuatan sekolah lalu dikembangkan agar memiliki ciri khas) yaitu pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan).

o   Kaitan dengan modul pengelolaan aset sekolah, (Program sekolah yang berdampak pada murid bisa dilakukan dan berjalan dengan baik yaitu dengan mengoptimalkan serta memberdayakan aset sekolah agar lebih berdaya guna).

 

Bagaimana kaitan dari semua materi tersebut dengan peran Anda sebagai guru penggerak?

Jawaban :

Kaitan dari semua materi dengan peran sebagai guru penggerak yakni untuk mewujudkan merdeka belajar dan menuntun murid dalam mengoptimalkan kodrat (potensinya). Karena itu guru penggerak harus mampu memetakan aset sekolah, mengelola aset tersebut dan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki sekolah (inkuiri apresiatif) dalam merancang program yang berdampak pada murid dengan tetap mengacu kepada tahapan BAGJA dan tahapan-tahapan yang lainnya.

 

Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah untuk mewujudkan transformasi pendidikan harus dimulai dari diri sendiri, bagaimana cara kita dalam mengambil suatu keputusan yang tepat dan efektif bagi banyak orang yang tentunya keputusan tersebut memberikan dampak positif baik untuk murid kita, rekan guru maupun lingkungan kita serta pengambilan keputusan hendaknya tetap memperhatikan nilai-nilai kebajikan dan tidak bertentangan terhadap paradigma, prinsip maupun langkah-langkah pengambilan keputusan dengan tetap mengedepankan pengelolaan program yang berdampak pada murid.

Senin, 23 Agustus 2021

2.3.a.9. Koneksi Antar Materi - Coaching

 Nama: FX Deni Iswanto, S.Pd.

CGP Angkatan 2 Kota Bandar Lampung




A.  Sintesis Berbagai Materi 

Kesimpulan dan Refleksi Modul 2

Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi murid pada jalur pendidikan formal. Saat ini guru disebut sebagai pemimpin pembelajaran yang berkaitan langsung dengan perannya dalam pendidikan yaitu seorang coach yang melakukan coaching bagi muridnya. Guru sebagai pelatih berperan memberikan pengawasan dan peluang bagi murid untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sebagai latihan untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal.  Tidak semata-mata menjalankan profesi, guru pun bertanggung jawab dalam tugas kemanusiaan memperlakukan muridnya sebagai mitra dalam menggali potensi dirinya.

Jika proses coaching berlangsung lancar, maka akan memiliki dampak positif bagi coachee. Seorang murid akan berada pada keadaan merdeka belajar di mana semua kemampuan dan potensi belajarnya menjadi lebih maksimal.

Bagi pendidik yang mengembangkan peran sebagai coach membuat keempat kompetensi menjadi lebih terasah. Dampaknya aktivitas pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan bersama murid yang mudah belajar. 

Layanan coaching bagi coachee di sekolah dapat mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yaitu Beriman,Bertaqwa kepada Tuhan YME,dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar kritis, Kreatif, Bergotong royong , dan Berkebinekaan Global. Guru harus berusaha memberikan peluang bagi murid menjadi cerdas dan berkarakter lewat proses coaching.

Pada modul 2.1 CGP belajar tentang pembelajaran berdiferensiasi dengan membuat pemetaan kebutuhan belajar murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut.

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. 

Ketiga aspek tersebut adalah:

  1. Kesiapan belajar (readiness) murid
  2. Minat murid
  3. Profil belajar murid

Pada modul 2.2 CGP belajar tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional (CASEL). Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk:

·       memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi.

·       menetapkan dan mencapai tujuan positif.

·       merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain.

·       membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta.

·       membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Pembelajaran sosial dan emosional dapat diberikan dalam tiga ruang lingkup:

1.    Kegiatan rutin: kegiatan yang dilakukan di luar waktu belajar akademik. Misalnya, kegiatan membaca bersama, ekskul, perayaan hari besar, acara sekolah, apel pagi, kerja bakti, senam pagi bersama, seminar/pelatihan.

2.    Terintegrasi dalam pembelajaran: sebagai strategi pembelajaran atau diintegrasikan dalam kurikulum. Misalnya, melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran, membuat diskusi kasus atau kerja kelompok untuk memecahkan masalah, dll.

3.    Protokol: budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu. Misalnya, menjaga ketenangan di ruang perpustakan, berdoa di mushola sekolah dengan khidmat, dll.

Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat - Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan (The awareness that arises when we pay attention, on purpose, in the present moment, with curiosity and kindness).

 

Kesadaran penuh (mindfulness) muncul saat seorang sadar sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan, atau dalam situasi yang menghendaki perhatian yang penuh. Misalnya, seorang anak yang terlihat asyik bermain peran dengan menggunakan boneka tanpa terganggu oleh suara sekitarnya, murid yang sedang memainkan musik, menikmati alur cerita dalam bacaan, menikmati segelas teh hangat, atau menikmati pemandangan matahari terbenam, atau guru yang sedang mendengarkan murid dengan penuh perhatian. Intinya adalah adanya perhatian yang dilakukan secara sadar dengan dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan. Fungsi latihan berkesadaran penuh adalah menumbuhkan perasaan yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih, yang akan berpengaruh pada keputusan yang lebih responsif dan reflektif.

Kesadaran penuh (mindfulness) dapat dilatih dan ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan. Artinya, kita dapat melatih kemampuan untuk memberikan perhatian yang berkualitas pada apa yang kita lakukan. Kegiatan-kegiatan seperti latihan menyadari nafas (mindful breathing); latihan bergerak sadar (mindful movement), yaitu bergerak  yang disertai kesadaran  tentang intensi dan tujuan gerakan; latihan berjalan sadar (mindful walking) dengan menyadari  gerakan tubuh saat berjalan, dan berbagai kegiatan sehari-hari  yang mengasah indera (sharpening the senses) dengan melibatkan mata, telinga, hidung, indera perasa, sensori di ujung jari, dan sensori peraba kita.  Kegiatan-kegiatan di atas seperti bernapas dengan sadar, bergerak dengan sadar, berjalan dengan sadar dan menyadari seluruh tubuh dengan sadar dapat diawali dengan cara yang paling sederhana yaitu dengan menyadari nafas.

Menurut kamus Oxford English Dictionary, well-being dapat diartikan sebagai kondisi nyaman, sehat, dan bahagia. Well-being (kesejahteraan hidup)  adalah sebuah kondisi dimana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya. Menurut Mcgrath & Noble, 2011, murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki  ketangguhan dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab.

Menurut Hawkins (2017), latihan berkesadaran penuh (mindfulness) dapat membangun keterhubungan diri sendiri (self-awareness) dengan berbagai kompetensi emosi dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, sebelum memberikan respon dalam sebuah situasi sosial yang menantang, kita berhenti, bernafas dengan sadar, mengamati pikiran, perasaan diri sendiri maupun orang lain, dan mengambil tindakan yang lebih responsif, bukan reaktif.

5 kompetensi sosial-emosional:

1.    Kesadaran Diri - Pengenalan Emosi

2.    Pengelolaan Diri – Mengelola Emosi dan Fokus

3.    Kesadaran Sosial - Keterampilan Berempati

4.    Keterampilan Berhubungan Sosial - Daya Lenting (Resiliensi)

5.    Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab

Pada modul 2.3 CGP belajar tentang coaching. Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar.

Perbedaan antara coaching, konseling, dan mentoring


4 unsur utama yang mendasari prinsip komunikasi yang memberdayakan:

1) Hubungan saling mempercayai

Rasa aman dan nyaman akan hadir dalam sebuah hubungan jika ada rasa saling memperhatikan baik keadaan pribadi atau kesejahteraan profesionalnya. Bagi murid, bahwa kita peduli pada kualitas belajarnya akan membuat murid berasumsi bahwa komunikasi kita bertujuan untuk perbaikan mutu. Kepercayaan merupakan jalan dua arah.

2) Menggunakan data yang benar

Dalam setiap komunikasi diperlukan data yang benar dan dinamika yang sesuai. Tanpa gambaran akurat tentang pesan atau masalah yang sedang dibahas, maka kesan subjektivitas akan hadir dalam proses komunikasi.

3) Bertujuan menuntun para pihak untuk optimalisasi potensi

Komunikasi memberdayakan seyogyanya menuntun rekan bicara kita untuk mampu berefleksi atas diri mereka dan mengenali pesan atau isu yang dibahas dengan benar. Rasa kepemilikan dan tanggung jawab atas pesan dari proses komunikasi yang ada akan membuat dampak pada jangka yang lebih panjang.

4) Rencana tindak lanjut atau aksi

Jika diperlukan, buatlah rancangan konkrit sebagai hasil dari proses komunikasi. Hal ini sebagai bentuk komitmen dari sebuah komunikasi yang bertujuan positif dan efektif.

Empat aspek berkomunikasi yang perlu kita pahami dan kita latih untuk mendukung praktik Coaching, yaitu:

1.    Komunikasi asertif

2.    Pendengar aktif

3.    Bertanya efektif

4.    Umpan balik positif

TIRTA sebagai model coaching dikembangkan dari satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will.

1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

4)Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

TIRTA kepanjangan dari:

T: Tujuan
I: Identifikasi
R: Rencana aksi
TA: Tanggung jawab

 

Tujuan

Tujuan Umum (biasanya ini ada dalam pikiran coach dan beberapa dapat ditanyakan kepada coachee).

Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam pikiran coach) dan yang dapat ditanyakan kepada coachee adalah:

a. Apa rencana pertemuan ini?
b. Apa tujuannya?
c. Apa tujuan dari pertemuan ini?
d. Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?
e. Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?

Seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih coachee. 

Identifikasi

Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini adalah:

a. Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang?
b. Dari skala 1 hingga 10, dimana kamu sekarang dalam pencapaian tujuan kamu?
c. Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan
d. Peluang/kemungkinan apa yang bisa kamu ambil?
e. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih tujuan?
f. Apa solusinya?

Rencana Aksi

a. Apa rencana kamu dalam mencapai tujuan?
b. Adakah prioritas?
c. Apa strategi untuk itu?
d. Bagaimana jangka waktunya?
e. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?
f. Bagaimana cara kamu mengantisipasi gangguan?

TAnggung jawab

a. Apa komitmen kamu terhadap rencana aksi?
b. Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?
c. Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?


B.  Rancangan Tindakan
















Sabtu, 07 Agustus 2021

Modul 2.1.a.9 Koneksi Antar Materi Modul 2.1

Nama  : FX Deni Iswanto, S.Pd.
CGP Angkatan 2 Kota Bandar Lampung

 

Pembelajaran Berdiferensiasi dan Penerapannya di Kelas
Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid 

Pembelajaran diferensiasi menurut Tomlinson (2000) adalah usaha yang dilakukan guru dalam menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Tujuan pembelajaran berdiferensiasi untuk setiap siswa adalah pertumbuhan maksimum dari "posisi belajar" mereka saat ini. Sedangkan tujuan untuk guru adalah semakin memahami tentang posisi belajar tersebut sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Proses pembelajaran diferensiasi lebih menekankan pada kebutuhan individu, karena kita tahu bahwa setiap anak itu unik. Mereka punya ciri khas masing-masing dan terlahir dengan kodrat alam dan zamannya. Dalam hal ini guru hanya bisa menuntun lakunya bukan kodratnya. Guru selalu berusaha untuk memenuhi dan memperhatikan kebutuhan belajar setiap murid yang berbeda-beda. Guru bukan mengajar dengan berbagai cara yang berbeda dalam waktu yang sama. Namun sebelum mengajar guru terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar murid terkait dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Bagaimana guru akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda. Guru menciptakan lingkungan belajar yang "mengundang" murid untuk belajar, mendefinisikan tujuan pembelajaran, melaksanakan penilaian berkelanjutan dengan memanfaatkan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, dan merespon kebutuhan belajar murid.

Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, penilaian berkelanjutan (proses penilaian formatif yang telah dilakukan), refleski guru (bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya, dan juga pengelolaan kelas yang efektif.

Ketika guru melakukan pembelajaran berdiferensiasi mereka menjauh dari melihat diri mereka sendiri sebagai pemilik dan penyebar pengetahuan dan bergerak ke arah melihat diri mereka sendiri sebagai penyelenggara kesempatan belajar. Guru dengan demikian akan lebih fokus pada “membaca” siswa mereka. 

Langkah-langkah dalam pembelajaran  berdiferensiasi:

  1. Menetapkan tujuan pembelajaran (pahami kompetensi dasar atau standar yang akan dicapai, tentukan tujuan pembelajaran).
  2. Melakukan pemetaan kebutuhan siswa (pre tes minat, profil belajar dan kesiapan belajar).
  3. Menentukan strategi dan alat penilaian yang digunakan.
  4. Menentukan kegiatan pembelajaran (konten, proses, produk). 

Strategi diferensiasi ada 3, yaitu:

  1. Diferensiasi Konten merujuk pada strategi dalam membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten yang disampaikan oleh guru.
  2. Diferensiasi Proses merujuk pada strategi untuk membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (content) materi.
  3. Diferensiasi Produk merujuk pada strategi untuk memodifikasi produk hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari. 

Diferensiasi menghendaki seorang guru untuk menyadari bahwa ruang kelas harus menjadi tempat di mana guru akan selalu berusaha mengejar pemahaman terbaik mereka tentang pengajaran dan pembelajaran setiap hari, dan juga untuk mengingat setiap hari bahwa tidak ada praktik yang benar-benar praktik terbaik kecuali jika itu berhasil untuk setiap individu. 

Seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa setiap anak merupakan suatu pribadi yang unik, yang mempunyai karakter khas yang membedakannya dengan anak lainnya. Sesungguhnya dari sejak dilahirkan setiap anak mempunyai perilaku, watak, karakter, bakat, minat, tingkat emosional, kecerdasan yang berbeda. Maka setiap anak atau murid harus memperoleh penghargaan maupun perlakuan yang berbeda sebagai seorang individu. Untuk dapat mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki murid dan mencapai hasil belajar yang optimal guru harus memodifikasi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda beda tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, apakah dari segi konten, proses maupun produknya yang diawali dengan memetakan kebutuhan murid itu sendiri dalam belajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pada dasarnya untuk memcapai pemenuhan kebutuhan dan prestasi belajar yang optimal, hal utama yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan memetakan kebutuhan belajar siswa. Guru dapat merancang, menerapkan/melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan siswa itu sendiri. Dengan terpenuhinya kebutuhan belajar siswa yang berbeda- beda, maka prestasi belajar optimal dapat tercapai sesuai dengan harapan.


Salam dan bahagia
#gurubergerak
#Indonesiamaju